<

Melekan/Lek-lekan, Tradisi Masyarakat Tegal yang Sarat Makna di Hari Raya Iduladha

  Jumat, 31 Juli 2020   Lilisnawati
Masyarakat yang hendak berkurban tengah melakukan tradisi melekan bersama hewan kurban, Kamis (30/7/2020).(Lilisnawati/Ayotegal)

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM- Jika perayaan Hari Raya Idulfitri memiliki setumpuk tradisi yang melekat. Namun bagaimana dengan tradisi saat perayaan Hari Raya Iduladha?

Kebanyakan orang memang sudah mengetahui, tradisi Iduladha lekat dengan pemotongan hewan kurban. Namun siapa sangka, perayaan Iduladha juga memiliki tradisi yang penuh nilai moral yakni melekan.

Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik mengatakan, melekan berasal dari kata melek yang berati membuka mata. Artinya, masyarakat yang hendak berkurban akan begadang hingga tengah malam sebagai wujud syukurnya bisa menjalankan ibadah kurban.

"Mereka akan menemani hewan yang hendak dikurbankan sembari memberikan pitutur kepada anak cucu. Kalau ada rezeki lebih jangan lupa digunakan untuk ibadah. Biasanya seperti itu," ucapnya, Kamis (30/7/2020).

Atmo mengatakan, perayaan Iduladha juga dijadikan momen berkumpul bersama keluarga sekaligus berbagi kebahagian bersama tetangga sekitar.

"Mereka biasanya menggelar tasyakuran, tahlilan mengundang tetangga sekitar," katanya.

Sebelumnya, hewan kurban akan dimandikan terlebih dahulu sebelum diserahkan kepada panitia atau sebelum disembelih. Tujuannya, agar pada saat hewan disembelih sudah dalam keadaan bersih.

Selain itu, tradisi melekan juga dijalankan oleh panitia penyembelihan hewan kurban. Mereka akan memeriksa semua kesiapan sarana dan prasarananya.

"Dari mulai jumlah penerima, jumlah hewan kurban, alat pemotongan dan lainnya," katanya.

Menurutnya, tradisi tersebut sangat kental di kalangan masyarakat desa.

Benar saja, tradisi melekan juga masih dijalankan oleh masyarakat di Desa Bojongsana, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Satu di antaranya Hj Saerah (64).

Menurutnya, melekan atau lek-lekan memang sudah menjadi tradisi di desanya. Biasanya, masyarakat yang lek-lekan mereka yang berkurban.

"Nggih meleki sapi sing badhe disembelih. Istilahnya tasyakuran ngoten niku. Tahlilan kirim donga kangge tiyang sepuh sing pun seda," katanya.

Saerah juga menjadikan momen lek-lekan untuk berkumpul sekaligus memberikan nasihat kepada anak-anaknya bagaimana pentingnya berkurban.

"Nggih dingge nasihati lare. Menawi gadhah rezeki turah dipun gunakake ibadah. Menopo umrah, haji nopo kurban kados kulo sakniki. Pun diniati menawi lare bontot kulo mpun nikah badhe tumbas sapi kangge kurban. Alhamdullah diparingi rezeki," ucapnya.

Ia mengatakan, tradisi lain yang masih dijalani yaitu memandikan sapi dengan air kembang. Selanjutnya, sapi diberi kalung kupat lepet, kembang dan kain mori. "Tradisi saking orang tua kados niku," terangnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar