Edukasi 3M, Bupati Tegal Sebut Peran Strategis Jogo Tonggo dan Tokoh Masyarakat

  Sabtu, 03 Oktober 2020   Dwi Ariadi
Rakor Forkopimda Kabupaten Tegal sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19 di lapangan Pemkab Tegal, Jumat (2/10/2020)(dok)

SLAWI, AYOTEGAL.COM - Sosialisasi penerapan protokol kesehatan dengan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan) terus digencarkan oleh Pemkab Tegal.

Di tengah semakin meningkatnya kasus Covid-19 di Kabupaten Tegal, Bupati Umi Azizah menyebutkan peran berbagai pihak, terutama Jogo Tonggo yang di tingkat RT hingga tokoh masyarakat memiliki peran penting dan strategis.   

Bahkan, dalam Rakor Forkopimda bersama sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat dengan agenda sosialisasi pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19 yang digelar di lapangan Pemkab Tegal, Jumat (2/10/2020) digelar secara terbuka. 

Peserta rapat pun mengikuti kegiatan dengan berjemur. Dalam rapat ini, Umi meminta para tokoh agama turut serta mensosialisasikan kepada warga untuk menerakan protokol kesehatan, yakni, disiplin menjaga jarak, memakai masker, rajin mencuci tangan, serta menerapkan perilaku hidup sehat. 

Menurut Umi, penerapkan protokol kesehatan melalui sanksi hukum harus dibarengi sosialisasi yang cukup untuk memahamkan warga akan pentingnya menjaga diri dan melindungi orang lain. 

''Peran tokoh agama sangat penting dalam membantu mendisiplinkan masyarakat agar patuh dan semakin sadar akan bahaya Covid-19,''katanya. 

Bupati menilai, masih banyak masyarakat yang belum patuh atau abai terhadap protokol kesehatan, terutama di tempat ibadah. Masyarakat tidak mengindahkan jaga jarak, memakai masker, maupun membawa peralatan ibadah sendiri. 

''Sebenarnya, tidak ada larangan warga untuk melaksanakan kewajibannya di tempat ibadah. Namun, harus menerapkan protokol kesehatan yang sesuai dengan Perbup No 62 Tahun 2020 tentang Penerapan Disipilin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Penularan.'' 

“Ini adalah tantangan bagi para tokoh masyarakat dalam hal ini tokoh agama dalam mensosialisasikan peraturan ini,”tambahnya.

Dikatakan oleh Umi, influencer hingga tokoh masyarakat bahkan tokoh agama ada yang memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda soal Covid. 

''Pengaruhnya, mereka mampu menggiring opini publik pada situasi situasi yang tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam memutus rantai penularan Covid-19. Terlebih di era media sosial ini, siapa saja bisa beropini secara bebas dan dengan mudah meneruskan pesan secara berantai tentang Covid-19 yang mungkin saja bisa keliru,''ujat

“Tantangan kita di era keterbukaan informasi bagaimana mengisi ruang informasi, ruang maya kita dengan berbagai informasi yang benar soal penanganan Covid-19 dan tentunya harus dari sumber yang terpecaya. Sehingga terbangunnya kesadaran masyarakat akan perilaku hidup bersih, sehat dan aman dari Covid-19,” Ujarnya.

Kepala Dinkes Kabupaten Tegal, Hendadi Setiadji juga menjelaskan kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama tentang perbedaan pasien kontak erat, suspek, dan pasien terkonfirmasi.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar