Bermula dari Usaha Jualan Bambu, Ini Kisah Sukses Bos Dedy Jaya Grup

  Kamis, 22 Oktober 2020   Lilisnawati
Bos Dedy Jaya, Muhadi Setiabudi saat mengisi acara kewirausahaan (Humas Pemkot Tegal).

BREBES, AYOTEGAL.COM- Mendengar nama Dedy Jaya tentu sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Pantura.

Mereka mengenalnya sebagai armada bus yang biasa mengantarkan orang-orang perantauan ke ibu kota.

Perusahaan armada bus tersebut merupakan satu dari sekian unit bisnis Dedy Jaya Group milik Dr (HC) H Muhadi Setiabudi (61), seorang pengusaha sukses asal Brebes, Jawa Tengah.

Selain perusahaan bus, Muhadi juga memiliki sebuah perguruan tinggi di Brebes yang bernama Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS).

Ada pula perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, seperti rumah sakit yang tersebar di wilayah Brebes, Tegal dan Pemalang.

Namun siapa sangka, pemilik Dedy Jaya Group merupakan seorang santri jebolan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1975.

Selama menjadi santri, ia mengaji kitab kuning di Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS).

"Banyak kenangan yang tidak bisa dilupakan bersama teman-teman semasa di pondok. Saya juga masih ingat betul pesan para ustaz dan kiai yang memberikan wejangan agar santri tidak malas," katanya, belum lama ini.

Meski demikian, kisahnya menjadi bos Dedy Jaya tidak mudah. Ia merintis usaha dari nol. Menjadi seorang kondektur dan jualan bambu pun pernah ia lakoni.

Muhadi mengaku, mulai menjadi seorang kondektur bus pada tahun 1977 atau dua tahun setelah lulus dari pondok.

"Sebelumnya, begitu lulus saya ikut bekerja di tambak orangtua. Tapi dua tahun kemudian kerja jadi kondektur bus. Dua kali. Pertama bus Gelora Masa trayek Cirebon-Ciledug dan PO Sumber Bawang," ungkapnya.

Pada tahun 1979, ia menikah dengan seorang wanita bernama Atik Sri Subekti dan dikaruniani anak laki-laki yang diberi nama Dedy Yon Supriyono yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Tegal.

Setelah menikah, ia mulai berhenti menjadi kondektur dan menekuni dunia wirausaha.

Usaha pertamanya yakni berjualan cabai. Namun tidak membuahkan hasil. Ia pun kembali bekerja di tambak bersama orangtuanya. 

Tak berhenti di situ. Ia lantas memutar otak bagaimana caranya mengubah nasib. Muhadi kemudian memilih untuk berjualan bambu.

"Saya waktu itu berpikir, masa sih saya harus bekerja di tambak terus. Saya juga ingin merubah nasib. Akhirnya saya memutuskan untuk mulai berjualan bambu," katanya.

Menurutnya, perjalanan bisnisnya dimulai dari berjualan bambu yang didatangkan dari Ciamis, Jawa Barat. 

"Buat usaha bambu, waktu itu saya dapat pinjaman dari BRI sebesar Rp50.000 atau setara Rp2 juta saat ini. Karena kurang saya pinjam lagi Rp25.000 atau setara Rp 1 juta. Dari sinilah saya mulai berbisnis," bebernya.

Hingga akhirnya ia bisa mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan perusahaan bus, hotel dan swalayan.

Namun demikian, usaha bambunya yang kini telah berusia 39 tahun tetap ia pertahankan sebagai cikal bakal lahirnya Dedy Jaya Group.

Dengan kerja kerasnya merintis bisnis. Muhadi yang kini berusia 61 tahun sudah memiliki 5.400 karyawan.

Ia bersyukur, jerih payah di masa muda membuahkan hasil untuk perekonomian keluarga dan masyarakat dalam hal lapangan pekerjaan.

Maka, ia berpesan kepada para santri agar seusai lulus dari pondok harus mau bekerja keras. Jangan berpikir jebolan santri mau kerja apa dan jadi apa. Sebab, banyak lulusan pondok jadi pejabat, jenderal dan pengusaha.

"Karena sesungguhnya Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi pemalas, karena Allah SWT tidak suka. Seperti juga sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi Allahuma barik ummati ummati fi bukuriha, maknanya bangunlah di pagi hari," ucapnya.

Selain usaha, santri juga harus selalu berdoa saat sedang bermunajat kepada Allah SWT. 

Muhadi juga mengingatkan, seorang santri harus selalu ingat tujuan santri berangkat dari rumah. Datang menuntut ilmu dan pulang membawa ilmu

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar